Bunga dan Tembok (Wiji Thukul)

Hampir seluruh manusia yang berpijak di bumi Indonesia ini mengetahui dan paham betul bagaimana di tanah ibu pertiwi yang katanya gemah ripah loh jinawi ini pernah berkuasa rezim yang “bertangan besi”. Orde Baru menjadi sebuah ingatan yang tidak akan pernah hilang. Ada yang menyebut Orde Baru sebagai era kebangkitan dan pembangunan Indonesia setelah terpuruk di penghujung Orde Lama milik Soekarno.Tetapi, tak sedikit pula yang mengatakan bahkan berteriak lantang Orde Baru adalah masa kelam,”Habis gelap terbitlah pekat”.

Reformasi dianggap membawa angin segar terhadap kondisi bangsa. Penguasa tirani akhirnya bertekuk lutut dihadapan kehendak rakyat. Tetapi,”Historia Se Repete” sekali lagi membuktikan kata-katanya. Dalam perjuangan menggulingkan Orde Baru belasan bahkan puluhan orang yang menjadi motor penggerak penggulingan OrBa dinyatakan hilang menjelang Reformasi Mei 1998. Ada yang ditemukan terbunuh tetapi ada juga yang hingga kini menghilang tiada kabarnya. Wiji Thukul merupakan salah satu “Orang Hilang” tersebut.

Wiji Thukul merupakan seniman sekaligus aktivis asal Solo yang kala itu sangat vokal menentang Orde Baru. Wiji Thukul kerap mengkritik Orde Baru lewat buah karyanya berupa tulisan-tulisan sarat makna dan belasan puisi penuh retorika. Salah satu puisi yang sangat terkenal hingga kini berjudul,”Tembok dan Bunga” ini.

Puisi ini mengibaratkan rakyat kecil sebagai bunga, yang tumbuh tanpa diharapkan oleh para pemilik rumah. Bunga yang dicabut dan disingkirkan dari tanahnya sendiri. Di lain pihak, puisi ini mengibaratkan sang penguasa sebagai tembok, yang menggusur bunga dari tanahnya sendiri.

Sebuah kisah pilu.

Namun, di akhir sajaknya, Thukul memberikan semangat untuk pembaca, bahwa si bunga yang tercabut itu, tetap menebarkan benihnya. Benih semangat yang akan terus bergelora di masa depan kelak, merongrong keangkuhan tembok penguasa.

Ya, walaupun hilang,keluarga dan kerabat dekatnya masih percaya bahwa semangat Wiji Thukul untuk menentang tirani tidak akan pernah ikut menghilang. “Suaraku tidak akan mati. Aku akan terus tumbuh dan berlipat ganda”, kata sang istri menyampaikan tulisannya di sebuah poster bergambarsang suami.

Kini semangat sastra dan perlawanan diturunkan melalui putra putrinya. Kali ini akan dipersembahkan puisi legendaris “Bunga dan Tembok” yang sudah dimusikalisasi oleh Fajar Merah,putra Wiji Thukul.

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Sumber : http://sastranesia.com/puisi-bunga-dan-tembok-karya-wiji-thukul/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s