Urip Iki Mung Mampir Ngombe

sebuah pepatah jawa yang menyatakan hidup didunia hanya sementara dan sebentar, hanya sekedar numpang minum. jika ditelusuri lagi pepatah ini sarat makna. walaupun sebuah frase sederhana. coba ditelaah dari belakang, karena jika dari depan kita tidak akan penasaran.

mampir minum

baiklah mungkin sekilas kita paham hanya minum. minum bermakna memasukkan air atau cairan untuk menghilangkan dahaga, mungkiin tak hanya menghilangkan dahaga, tapi juga memberikan tambahan energi dalam tubuh. itu tergantung cairan apa yang kita minum.

pemaknaan pertama. kita lelah melakukan perjalanan, kita merasakan haus. lalu kita melanjutkan perjalanan lagi. ini dapat dianalogikan sebagai ibadah. haus adalah bagian dari cobaan. minum adalah adalah media kita untuk mengurangi efek cobaan itu, yaitu dengan ibadah. setelah hilang hausnya maka perjalanan akan dilanjutkan lagi. setelah masalah selesai, kehidupan berjalan seperti sebelumnya.

pemaknaan kedua. kala kita haus, tentu tak bisa sembarangan untuk mencari tempat untuk ‘mampir ngombe’. salah-salah malah air yang tak layak minum yang kita dapat. ini bagaikan kita mencari pencerahan hidup. encari tempat yang tepat untuk menghilangkan dahaga hati kita atas rahmat karuniaNya. setelah mendapatkannya kita akan kembali pulang ke tempat asal kita. analogi minum disini sama dengan sebelumnya, ibadah. hanya media ibadahnya saja yang harus dicari.

kata ‘mung’ (hanya)

kata ini dapat dimaknai bahwa tugas kita cuma satu, mampir ngombe. simple. jika ingin berbuat macam-macam atau bahkan melanggar apa yang di perintah sebelum kita berangkat tentu saat kembali akan memperoleh konsekuensi dari hal itu. entah itu baik atau tidak.

intinya tugas manusia hanya satu, beribadah padaNya. cara beribadahnya tentu sesuai syariah. syariah yang mana? yaa yang menurut dia benar dan menurut hadist dan quran benar. tak perlu lah mengarah-arahkan syariah seseorang, toh syariah yang kita jalani belum tentu sempurna. masalah disini tak hanya syariah, tapi bagaimana kita menjiwai syariah itu.

“urip”

hidup, mulai dari individu manusia bernyawa hingga nyawa dicabut. korelasi dengan penjelasan diatas adalah hidup sepanjang usia kita sebenarnya hanya dipergunakan untuk ibadah. dalam ibadah tentu kita harus menemukan jati diri ibadah. tanpanya ibadah kita hanya kosong. mungkin hanya sekedar kegiatan kosong tanpa makna.

urip iki mung mampir ngombe, carilah minuman yang terbaik pada tempat terbaik, agar kita tetap sehat saat kembali ke rumah abadi kita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s